Langsung ke konten utama

Menanamkan Kebaikan dengan Bermain

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ


Ketika membersamai anak, kita harus jujur dengan diri sendiri. Kalau kita mengenal Allah kita bisa menjadi duta Allah, dengan mengenalkannya kepada anak. Anak akan tertarik dengan Rosul kalau kitanya juga tertarik dengan Rosul. Beberapa kasus pada anak, membacakan buku kurang bernyawa walaupun sudah memakai intonasi/read aloud. Ternyata hal ini karena diri kita yang tidak tahu/memahami tentang apa yang dibacakan. Jadi kitanya dulu yang harus cinta, baru kita membagi cintanya kepada orang lainkan?

"Ada hubungan yang erat antara permainan kanak - kanak dengan bertumbuhnya budi pekerti" 

(Ki Hajar Dewantoro)

Bermain merupakan salah satu cara supaya anak - anak bisa menyadari dia mempunyai hubungan dengan pencipta-Nya. Setiap kita semua mempunyai hubungan yang sangat pribadi dengan Allah, dan kita tidak bisa meng-jugde hubungan seseorang dari luar karena cuma kita sama Allah yang tahu. Semakin kita kenal Allah semakin rasa cinta itu bertumbuh dengan subur, serta paham bahwa didunia ini tidak lebih penting daripada hubungan kita dengan Allah. Sisanya yang lain adalah bentuk peranan kita sebagai hamba Allah (menebar manfaat di dalam aspek yang ia perankan)


Saat Allah mengamanahkan kita seorang anak, maka tugas orang dewasa (orang tua) yg ada disekitarnya yaitu untuk menemani, membersamai supaya anak kenal dengan Penciptanya. Karena,  suatu saat nanti anak akan sadar bahwa dia merupakan pribadi terpisah dengan orang tuanya, yang juga memiliki hubungan istimewa dengan Allah serta mempunyai peranan-peranan yang perlu dijemput. Bermain merupakan bentuk simulasi kehidupan bagi mereka.


"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun dan Dia memberi kamu Pendengaran, Penglihatan, Hati  agar kamu bersyukur".

QS. An-Nahl Ayat 78

Allah memberi tools berupa alat Pendengaran, Penglihatan, Hati dengan tujuan agar kamu bersyukur. Bersyukur bukan hanya tentang aku menerima apapun kondisinya. Tapi ada langkah lebih baik yaitu bersyukur dengan menggali hikmah di balik rencannya (kenapa ya Allah kasih ini? apa maksud Allah mempertemukan kita?). Tidak ada yang kebetulan, ini adalah salah satu seni untuk:

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ

(bacalah dengan nama Tuhanmu) 

Maksud dari "bacalah dengan nama Tuhanmu" yaitu dengan membaca dengan kacamata Allah, begitu kita melihat sesuatu dengan kaca mata Allah semua terasa jelas. Memahami maksud serta tujuan Allah dalam setiap kejadian. Melalui permainan kita ingin anak anak menjadi mahir membaca dengan nama Allah entah apapun itu permainannya. Sayangnya mendidik anak itu tidaklah lama "hanya" sampai aqil baligh. Karena, setelah aqil baliq dia menjadi pribadi terpisah dari kita, catatan amalnya sudah sendiri. Mereka sudah mempunyai tanggung jawab, dan punya peranan. Jadi pergunakan waktu sebaik baiknya sampai aqil baliq, pastikan dia memiliki hubungan pribadi yang matang dengan Allah. 


Dalam urutan Panca Indra sebagai media belajar manusia di QS. An-Nahl Ayat 78, semata-mata tidak Allah beri maksud, dengan urutan tersebut terdapat pesan bahwa ada tahapan dalam perkembangan indra belajarnya.

  • Di usia 2 tahun pertama: alat pendengaran itu menjadi alat belajar yang paling optimal buat anak anak disaat penglihatannya masih agak kabur, tapi dia dengan jelas mendengarkan suara ibunya, dan dia tahu bahwa mana suara ibunya atau bukan .

  • Usia 2-6 tahun: Anak mulai berkembang indra penglihatannya, itu sebabnya direntang usia ini yang paling optimal adalah penglihatan bukan ucapan kita yang mereka dengar tapi apa yang mereka lihat ( bunda sibuk apa, dari bangun tidur sampai tidur lagi ngapain aja) itu semua mereka lihat, mereka rekam dan mereka tuangkan dalam bentuk permainan role play,misal;
    👱: aku jadi chef ya bunda ? mau buat pancake.
    🙎: oooiyaa hari ini kakak jadi chef yaa,, yuk kita do'a dulu "Ya Allah mampukan aku memecahkan telur, semoga nggak ada kulit pecahan telur yang masuk dalam adonan"
    🙎: MasyaaAllah,, Allah sudah memampukan kakak, nggak ada kulit yang masuk. yeeay! (bila berhasil, ataupun kalau belum berhasil).
    🙎: Ternyata... ada kulit yang jatuh (sampaikan dengan memberi informasi tanpa menyindir atau membentak).  Ya Allah, kakak harus belajar lagi, semoga Allah mampukan kakak yaa. 
    "Tahap ini anak anak banyak belajar dari melihat dan meniru".

  • Usia 7-10 tahun: usia pre-aqil baligh 1: Anak-Anak mulai kritis, mulai bisa mempertanyakan hal-hal yang dulu diajarin ditanyakan balik. Pada fase ini banyak pakai rasa. bermain dan belajar dengan kondisi perasaannya. 

  • 11-14 tahun. anak  mulai kombinasi dengan menggunakan semua indranya, anak mulai matang.

  • 15 th -< : Sampai aqil balik anak diharapkan sadar sebagai manusia yang utuh, Sadar bahwa ia punya tanggung jawab sama Allah. 

"bermain adalah cara anak untuk menghubungkan apa yang ada didalam dirinya dengan dunia luarnya". Dorongan bermain itu dari dalam dirinya, mereka punya kebutuhan apa, pasti kelihatan. Kalau mereka rungsing berarti ada kebutuhan mereka yang tidak terpenuhi: kebutuhan stimulasi nalar, kebutuhan stimulasi gerak, atau stimulasi sosial.

Inti tugas dari orang tua itu menjaga fitrah anak agar tetap lurus. Supaya mereka terbiasa mendengar, melihat yang baik baik, terbiasa tahu bahwa Allah menciptakan dia dengan sebentuk-bentuknya dan menciptakan bumi  sebagai tempat tinggal dengan sebaik-baiknya. Maka dia dimuka bumi ini nantinya peranannya itu apa? jadi saat dia terbiasa dengan hal-hal baik, Allah menciptakan semua dalam hal terbaik. Dia tau saat ada yang diluar/berbeda dengan konsep itu, dari dalam hatinya muncul perasaan gejolak untuk memperbaikinya. Dalam surat lukman mengajarkan bahwa yang utama jangan syirik kepada Allah, cinta terbesarnya Allah, selanjutnya itu dengan orang tua aku harus belajar banyak. Baru setelahnya dia harus keluar dan ikut menyebarkan hal-hal baik. Pesonakan ia pada kebikan InsyaaAllah ia akan bisa menebarkan kebaikan saat ia dewasa nanti. Tanamkan konsep tersebut pada anak.

Tujuan bermain :

  1. Kecerdaan Spiritual: anak paham bahwa ia didunia ini Allah ciptakan, sebelum ini ia dari mana? dibumi ini dia ngapain? setelah ini mau gimana? dan kemana?

  2. Kecerdasan Emosional: ketika anak mempunyai interaksi dengan orang lain ada dinamika dalam perasaannya. Ada keluar rasa tidak nyaman, senang, sedih, kecewa. Perasaan-perasaan itu perlu mereka alami saat mereka bermain supaya mereka cerdas.

  3. Kecerdasan Intelektual: tentang sebab akibat dan cara kerja. Anak - anak perlu tahu apa aktivitas ibu dan ayahnya, kenapa ayah kerja ini dibanding yang lain, berarti aku nanti kerja apa? kita menjelaskan kerja itu untuk bermanfaat nak, supaya Allah sayang kita, jadi nanti ketika kita nanti berdiri didepan Allah dan rasulluah  kita bisa cerita-cerita kita selama didunia ngerjain ini ini lhoo dan membuat bangga.

                            

  • 0-6 tahun adalah golden age untuk menumbuhkan fitrah keimanan.
    Dengan memperkenalkan Allah sebagai Rabb kita, Allah yan Maha Pencipta & Pemeberi Rejeki (Siapa yang menciptakan Awan? Siapa Menciptakan hujan? siapa yang menciptakan gunung? Siapa yang memberikan makan minum hari ini?). Fokus kita disini, apapun tema pembicaraannya & permainannya pastikan anak selesai mengenal Allah pada tahap usia ini. Fokus Mengenalkan Allah maha pencipta & pemberi rejeki Agar anak-anak cinta melalui bermain.
    Fokus orang tua menjadi fasilitator (saat mereka membutuhkan apapun kita fasilitasi), menjadi teladan (orang tua melakukan kegiatan apapun juga melibatkan Allah, misal ibu sedang sedih  tapi ambil wudhu terus sholat, pengamatan itu akan menjadi pola dalam otak mereka).
    Fokus kegiatannya apa saja, my home my play ground. semuannya dilakukan sejujur dan sedekat mungkin sama kehidupan. karena mereka akan mengalami kehidupan yang sama dengan yg kita alami sekarang, kelak mereka aka mengurus diri mereka sendiri. Fasilitasi mereka ruang yang aman, lingkungan yang sehat secara psikologis, gunakan barang barang yang ada didalam rumah.

                                  

  • 7-10  tahun adalah golden age untuk menumbuhkan fitrah belajar & bernalar.
    Kita memperkenalkan Allah sebagai Malik (Raja dari segala raja, Allah yang punya kekuasaan atas pola dan keteraturan dibumi ini) dan stimulasi nalar serta bantu mereka mengelola rasa. Fokus kita sebagai teman belajarnya, saat ia butuh teman ngobrol kita ada, saat ia butuh teman main kita temenin, saat dia tidak perlu teman bermain kita bisa dengan urusan kita sendiri.
    Fokus kegiatannya. fokus kegiatan banyak ekspidisi &eksplorasi tentang apapun itu (hal" kegiatan yang sifatnya proses) kasih mereka ruang.

  • 11-14  tahun adalah golden age untuk menumbuhkan fitrah bakat & kepemimpinan


intisari: 

  • apapun kegiatannya memulai kalimat dan tanggapan dengan kata Alla, karena dengan begitu mereka belajar membaca dengan nama Allah. misal;
    👱: Bunda gimana caranya bikin bubur?
    🙎: Jadi... Allah kasih ide bunda kemarin, bunda mau adek minum jahe, tapi adek nggak mau minum jahenya langsung kan? nah Allah kasih tau bunda buat bikin bubur jahe untuk adek makan. Dari beras" yg biasa kita masak jadi nasi, yang Allah kasih dari padi itu lhoo. (kata Allah memenuhi aspek percakapan) jika kita rutin dan repeatisi anak mencerna dengan baik, ketika dia role play (bermain peran) dengan teman"nya dia akan dengan sendirinya mengkaitkan Allah dalam permainan itu. yang nantinnya hal hal yang berulang-ulang akan menjadi mindset.

  • kaitkan dengan sains: salah satu cara kita mengenalkan Allah dengan cara memperhatikan penciptaannya. kita melihat segala sesuatu disekitar kita baik barang atau penciptaan alam, itu semua ada Allah yang Maha Pencipta dibalik itu.

  • Tanya balik : uji anak untuk mengaitkan konteks dengan Allah, anak sudah bisa merelate atau belum tentang membaca dengan nama Allah. Sering memberi pertanyaan tentang pendapat anak, membuat pola pertanyaan sehingga anak bisa membuat pola dari jawabannya sendiri.

Penting diingat, perlu peka usia dan ketertarikan karena kita tidak memaksakan hal seru untu kita atau apa yang mau kita mereka harus tau, kita start untuk selalu jujur dengan point of viewnya dari sudut mereka


Sumber:Ima dina _zoommeeting_menanamkan _kebaikan_dengan_bermain.



Komentar